Revitalization of the Traditional Senjang Art as an Effort to Preserve Local Cultural Identity in Lubuklinggau City

Revitalisasi Kesenian Tradisional Senjang sebagai Upaya Pelestarian Identitas Budaya Lokal di Kota Lubuklinggau

Authors

  • Haikal Saputra Universitas PGRI Silampari
  • Sarkowi Universitas PGRI Silampari
  • Ira Miyarni Sustianingsih Universitas PGRI Silampari

DOI:

https://doi.org/10.36526/santhet.v10i5.9077

Keywords:

Revitalization, Traditional Senjang Art, Local Cultural Identity, Lubuklinggau

Abstract

The traditional art of Senjang is one of the oral cultural heritages that represents the cultural identity of the people of Lubuklinggau City. However, its sustainability has been challenged by declining public interest, limited regeneration of performers, and the influence of modernization. This study aims to analyze the revitalization of the traditional Senjang art as an effort to preserve local cultural identity in Lubuklinggau City. The study employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, interviews, documentation, and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source and technique triangulation. The findings indicate that the revitalization of Senjang has shifted from conventional preservation toward a collaborative model involving educational institutions, government, art communities, and digital platforms. This collaborative approach not only supports the continuity of Senjang performances but also strengthens the transmission of cultural values, local language, and local wisdom across generations. The implementation of local content education, the continuation of traditional ceremonies, community-based artistic activities, and the use of digital media function as complementary strategies that enhance cultural sustainability and broaden public engagement with Senjang. The study concludes that collaborative and adaptive revitalization is essential for safeguarding Senjang as an intangible cultural heritage while reinforcing the local cultural identity of the people of Lubuklinggau City in the context of contemporary social change.

References

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Badan Pusat Statistik Kota Lubuklinggau. (2025). Kota Lubuklinggau dalam Angka 2025. Lubuklinggau: BPS.

Bertens, K. (2011). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Bungin, B. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Candra, R. (2023). Makna Satire Kesenian Senjang Musi Banyuasin Sumatera Selatan dalam Perspektif Semiotika Komunikasi. Jurnal Komunikasi dan Budaya Nusantara, Vol. 5(2), 55–66.

Danandjaja, J. (2007). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Dewi, N. P. T. A. (2023). Revitalisasi Seni dan Budaya sebagai Upaya Pelestarian. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Ilmu (JPMII), Vol. 4(2), hlm. 65–72. https://doi.org/10.54082/jpmii.258

Endraswara, S. (2013). Metodologi Penelitian Sastra Lisan. Yogyakarta: CAPS (Center for. Academic Publishing Service).

Endraswara, Suwardi. (2013). Folklor Nusantara: Hakikat, Bentuk, dan Fungsi. Yogyakarta: Ombak.

Geertz, Clifford. (1973). The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books

Hadi, Y. S. (2012). Seni Pertunjukan dan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hall, S. (1990). Cultural identity and diaspora. In J. Rutherford (Ed.), Identity: Community, culture, difference (pp. 222–237). London: Lawrence & Wishart.

Hardani, dkk. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka Ilmu.

Harianto, I. I. (2023). Stimulation of Local Cultural Values and Wisdom in the Indonesian Community. Cendikia Journal of Education and Humanities. Hlm. 56.

Irwansyah, Y., Sarkowi., Saputra, H., & Almada, Y. A. (2025). Kesenian Senjang dan Rejung sebagai Bagian dari Tradisi Masyarakat Uluan Musi. SINDANG Jurnal Kebudayaan dan Kajian Sejarah, 5(2), 1–12. https://doi.org/10.31540/sindang.v7i1.3161

Jalal, M. (2019). Pemudaran Seni Tradisional di Kota Surabaya dan Revitalisasi. Jurnal BioKultur, Vol. VIII(1), hlm. 11–15. Surabaya: Universitas Airlangga.

Jenkins, Richard. (2008). Social Identity. London: Routledge.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2018). Pedoman Revitalisasi Tradisi dan Kesenian Daerah. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Lickona, Thomas. 2013. Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Bandung: Nusa Media.

Moleong, L. J. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Munaiah, M. (2024). The Impact of Globalization on the Social Behavior and Local Cultural Identity of the Sade Community. ALMAARIEF Journal. Hlm. 33.

https://doi.org/10.35905/almaarief.v6i2.11313

Nazir, M. (2014). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nurmalina, N. (2023). Fungsi dan Keberlangsungan Seni Senjang Masyarakat. Jurnal Khazanah, Vol. 12(1), hlm. 16-19. https://doi.org/10.15548/khazanah.v13i1.950

Octaviani, D. (2019). Metode Penelitian Kualitatif: Konsep dan Aplikasi dalam Ilmu Sosial. Yogyakarta: Deepublish.

Okta, R., Hamidah, R., & Randicha, H. (2024). Analisis Komunikasi Budaya dalam Kesenian Senjang (Studi pada Sanggar Putri Sak Ayu, Musi Banyuasin). Jurnal Diksima, Vol. 2(1), hlm. 55-60. https://doi.org/10.47134/diksima.v1i1.1

Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Rahmat, A., dkk. (2024). Regenerasi Kesenian Tradisional Senjang Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Jurnal Sains Sosial dan Humaniora Vol.4(2). https://doi.org/10.24036/em.v2i3.84

Riani, O. (2024). Regenerasi Kesenian Tradisional Senjang sebagai Pelestarian Budaya Lokal. Jurnal Edumusika, Vol. 6(1), hlm. 40–45.

Rohidi, T. R. (2011). Kesenian dalam Pendekatan Kebudayaan. Semarang: Cipta Prima Nusantara.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. (2011). Kesenian dalam Pendekatan Kebudayaan. Bandung: STISI Press.

Sudarmanto, B. A. (2020). Revitalisasi Sastra Lisan dan Pemertahanan Bahasa Daerah: Studi Kasus Sastra Lisan Rejung dan Gurindam di sumatera Selatan. Jurnal. https://doi.org/10.30595/jssh.v4i2.8593

Sa’adah, R. N., & Wahyu. (2022). Metode Penelitian R&D (Risearch and Development). Malang: Literasi Nusantara Abadi.

Sarkowi, dkk (2024) Tradisi Lisan Masyarakat Dusun Batu Urip Sebagai Penguat Nilai Kearifan Lokal Kota Lubuklinggau. SINDANG Jurnal Kebudayaan dan Kajian Sejara. Vol. 6(2) https://doi.org/10.31540/sindang.v6i2.2814

Sartini. (2010). Filsafat Budaya: Wawasan Ilmu Budaya dan Kearifan Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sedyawati, E. (2014). Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Sibarani, R., & Asosiasi Tradisi Lisan. (2012). Kearifan lokal : hakikat, peran, dan metode tradisi lisan. Asosiasi Tradisi Lisan ATL.

Soedarsono. (2010). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukma, & Suparno (2018). Kesenian Senjang Antara Tradisi Dalam Arus Globalisasi Sebagai Media Propaganda. Jurnal Dewaruci, Vol. 13(2) https://doi.org/10.33153/dewaruci.v13i2.2510

Supriadi, I. (2024). Indonesian Cultural Identity in Social Media Networks: A Study. MSJ: Media Sosial Journal. Hlm. 9.

T.O Ihromi. (2015). Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Tindaon, J. (2020). Kesenian Tradisional dan Revitalisasi. Jurnal Ekspresi Seni, Vol. 22(1), hlm. 50–58. Padangpanjang: Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. http://dx.doi.org/10.26887/ekse.v14i2.225

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Waluyo, Herman J. 2006. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Waruwu, M. (2024). Pendekatan Analisis Data Kualitatif: Model Miles & Huberman dalam Penelitian Sosial. Jakarta: Mitra Wacana Media

Lestriwati. (2025). Revitalisasi Seni Tradisional sebagai Upaya Pelestarian Budaya Lokal Di Era globalisasi. Jurnal of Art Communication and Culture Global, Vol 1(1).

Yanti, N. 2025. “Kearifan Lokal Sastra Lisan Senjang pada Adat Pernikahan.” Jurnal Kajian Tradisi, Pendidikan, dan Pariwisata, Vol. 2 No. 1.

Yati, R. M. & Sustianingsih, I. M. (2021). Tradisi Lisan Musi Rawas dan Rejang Lebong. Kota Padang: CV. Rumahkayu Pustaka Utama.

Zamhari, A., dkk. (2023). Kesenian Senjang Tradisi Pernikahan Musi Banyuasin. Hlm. 44 https://doi.org/10.52436/1.jpti.300

Downloads

Published

2026-10-14

How to Cite

Saputra, H., Sarkowi, & Ira Miyarni Sustianingsih. (2026). Revitalization of the Traditional Senjang Art as an Effort to Preserve Local Cultural Identity in Lubuklinggau City: Revitalisasi Kesenian Tradisional Senjang sebagai Upaya Pelestarian Identitas Budaya Lokal di Kota Lubuklinggau. Santhet (Jurnal Sejarah Pendidikan Dan Humaniora), 10(5), 2074–2085. https://doi.org/10.36526/santhet.v10i5.9077