https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/issue/feed Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya 2025-03-30T09:20:55+00:00 Eko Malis malisgsn@gmail.com Open Journal Systems <p>Jurnal ini memuat dan menerbitkan artikel sesuai dengan bidang ilmu kimia murni dan terapan yaitu kimia analitik, kimia organik, kimia anorganik, kimia kosmetik, kimia bahan pangan, kimia lingkungan dan kimia edukasi. Terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan maret dan september oleh Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi.<a href="https://drive.google.com/file/d/1BNhuPbjzNI3Dj-zDxJMTYLyf1EACGtP3/view?usp=drive_link" target="_blank" rel="noopener"> Informasi terbaru Jurnal Crystal 2024</a></p> https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4122 THE MAKING NATA DE ORANGE USING JUICEED ORANGE FRUIT EXTRACT (CITRUS SINENSIS (L.) OSBECK) 2025-03-30T09:20:41+00:00 Rahmat Ilham Perdana rahmatilhamperdana1881@gmail.com Fitri Amelia rahmatilhamperdana1881@gmail.com Della Rosalynna Stiadi rahmatilhamperdana1881@gmail.com Rahmida Marlini rahmatilhamperdana1881@gmail.com Cindy Aprilianti rahmatilhamperdana1881@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan buah jeruk sebagai bahan dasar produk olahan pangan, mengetahui pemanfaatan bahan dasar lain dalam pembuatan nata (selain kelapa), mengetahui ekstrak buah jeruk peras dapat digunakan dalam pembuatan nata de orange, mengetahui dan membandingkan kadar vitamin C, kadar asam asetat, kadar air dan organoleptik pada dua produk nata yang berbeda yakni nata de orange yang disintesis serta nata de coco pasaran. Jeruk peras dapat dijadikan sumber utama pembuatan nata selain air kelapa , karena dapat mengurangi penggunaan gula sebagai sumber karbohidrat dan urea sebagai sumber asam amino yang berperan penting untuk pertumbuhan bakteri Acetobacter Xylinum penghasil selulosa nata. Ekstrak perasan buah jeruk yang dipakai dalam penelitian ini mempunyai kadar protein sebesar 0,385% dan kadar karbohidrat sebesar 13,555%. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu fermentasi nata de orange pada suhu 27-300C selama 10 hari. Untuk menentukan kadar vitamin C digunakan metode titrasi iodimetri, untuk menentukan kadar asam asetat digunakan metode titrasi asam basa (netralisasi), untuk menentukan kadar air digunakan metode pengeringan gravimetri. Hasil penelitian menunjukan bahwa nata de orange memiliki kadar vitamin C sebesar 5,02%, kadar asam asetat sebesar 0,040%, kadar air sebesar 82,3%. Nata de orange memiliki kadar vitamin C dan kadar air yang lebih tinggi serta kadar asam asetat yang lebih rendah dibandingkan nata de coco pasaran. Untuk uji organoleptik, nata de orange memiliki penilaian rata-rata 3,52, 3,33, 3,42, 3,57 dari 21 orang responden untuk warna, aroma, rasa, dan tekstur. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka ekstrak air jeruk peras dapat digunakan sebagai bahan dasar pengganti air kelapa dalam pembuatan nata.</p> <p>&nbsp;</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Rahmat Ilham Perdana, Fitri Amelia, Della Rosalynna Stiadi, Rahmida Marlini, Cindy Aprilianti https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4852 ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA ALIFATIK TAK JENUH DARI KULTUR AKAR MORUS CATHAYANA 2025-03-30T09:20:43+00:00 NI YUNIANTARI yuniantari@poliwangi.ac.id Euis Holisotan Hakim yuniantari@poliwangi.ac.id <p>Moraceae is a plant that is widely distributed in Asia and the Indopacific Islands. One of the genera of Moraceae that has been widely researched and whose bioactive compounds is the <em>Morus</em>, namely <em>M. cathayana</em>. the aim of this research is determining the diversity of secondary metabolite of root cultures of <em>Morus cathayana</em>. Isolation of secondary metabolites from Morus cathayana root cultures was using several chromatographic techniques and eluents combination is <em>n</em>-hexane, acetone, chloroform, ethyl acetate and methanol. In this research, the compound KMAC-4 was isolated. Characterization of the KMAC-4 compound using the FTIR ONE <em>Perkin-Elmer</em> spectrophotometer. showed that the KMAC-4 compound had an absorption at wave number (cm-1): 3654.97; 3650.45; 2936.87; 1718.71; 1465.76; 1381.56; 1049.50. Based on IR spectrum data that has been interpreted, analyzed and studied according to the phytochemical of the <em>Morus</em>, it can be concluded that the KMAC-4 is an unsaturated aliphatic compound which belongs to the steroid or terpenoid group.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 NI YUNIANTARI, Euis Holisotan Hakim https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4854 ANALISIS KUANTITATIF CEMARAN LOGAM BERAT PADA MINUMAN SERBUK TRADISIONAL BERBASIS KUNYIT (Curcuma longa L) 2025-03-30T09:20:43+00:00 Chairunisa Ayu Saputri nisa.akafarma@gmail.com Emi Novita Sari nisa.akafarma@gmail.com <p><em>Traditional herbal drinks have many health benefits because they contain active ingredients. Traditional drinks that are widely marketed are liquids that cannot be stored for long periods. One way to extend the shelf life is by formulating it into powder. Powdered drinks are more practical and easier to serve so it is hoped that they will be well received by consumers. Heavy metal contamination is an indicator that needs to be considered in food safety. The presence of heavy metal contamination in this study, namely Pb and Cu, can occur during the processing of traditional drinks or in the raw materials used. In this research, 3 turmeric-based powder drink formulations (Curcuma longa L) were carried out, with several other ingredients, namely tamarind, cinnamon, lemongrass and cloves with variations in the amount of sugar added. Analysis of heavy metal contamination was carried out on fresh turmeric raw materials and on powdered drink products. The test results show that in fresh turmeric raw materials there is 0.423 mg/kg Cu and 0.012 mg/kg lead. Tests on the three turmeric powder drink formulations, namely F1: contained 0.595 mg/kg Cu and 0.018 mg/kg lead. In F2 there was 0.435 mg/kg Cu and 0.005 mg/kg lead. In F3 there was 0.672 mg/kg Cu and 0.008 mg/kg lead. These results still meet the quality requirements for traditional powdered drinks based on SNI 01-4320-1996.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Chairunisa Ayu Saputri; Emi Novita Sari https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4991 STUDI IN SILICO INTERAKSI MOLEKULER SENYAWA AKTIF PALA (Myristica Fragrans Houtt.) DENGAN CASPASE-1 SEBAGAI TARGET ANTI-INFLAMASI PADA JERAWAT 2025-03-30T09:20:44+00:00 Angga Yasir angga.yasir@km.itera.ac.id <p>Jerawat merupakan kondisi dermatologis yang memerlukan penanganan efektif karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi interaksi molekuler senyawa aktif pala (<em>Myristica fragrans</em> Houtt.) dengan caspase-1 sebagai target anti-inflamasi pada jerawat menggunakan pendekatan <em>in silico</em>. Studi dilakukan menggunakan metode molecular docking terhadap metabolit utama pala meliputi miristisin, lignan, α-pinene, β-pinen, dan sabinen dengan protein target caspase-1 (PDB: 1BMQ). Hasil analisis menunjukkan bahwa lignan memiliki afinitas pengikatan tertinggi (-6.00 kcal/mol) dibandingkan dengan ligan alami (-5.00 kcal/mol). Analisis interaksi molekuler mengungkapkan bahwa lignan membentuk ikatan yang lebih kompleks meliputi ikatan hidrogen konvensional dengan HIS B:342 dan ARG B:383, interaksi π-anion dengan ASP B:381, π-cation dengan ARG B:352, serta interaksi π-sigma dan π-alkyl dengan VAL B:348 dan PHE B:377. Pola interaksi lignan berbeda dengan ligan alami yang didominasi oleh ikatan hidrogen dan interaksi elektrostatik. Hasil penelitian ini memberikan landasan ilmiah potensi senyawa pala, khususnya lignan, sebagai inhibitor caspase-1 yang dapat dikembangkan sebagai agen anti-inflamasi dalam pengobatan jerawat.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Angga Yasir https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4612 EFEKTIVITAS CANGKANG TELUR TERAKTIVASI ASAM DAN BASA UNTUK ADSORPSI LOGAM TEMBAGA (Cu) PADA LIMBAH CAIR LABORATORIUM 2025-03-30T09:20:45+00:00 Anita Karunia anitazustriani@walisongo.ac.id Tara Bintang Aghnia tarabintangaghnia@gmail.com <p>Penelitian tentang penyerapan ion logam tembaga (Cu) dalam air limbah menggunakan adsorben arang aktif dari cangkang telur ayam telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah memberikan solusi penanganan dan pengolahan limbah logam berat di laboratorium. Metode adsorpsi digunakan untuk tujuan tersebut. Proses aktivasi adsorben menggunakan aktivator asam dan basa, asam klorida sebagai aktivator asam dan natrium hidroksida sebagai aktivator basa. Hasil penelitian menunjukkan kondisi optimum proses adsorpsi yaitu pada pH 6, waktu kontak 60 menit, dan massa adsorben 0,25 gram. Pada kondisi optimum, efisiensi adsorpsi ion logam tembaga (Cu) oleh adsorben cangkang telur ayam teraktivasi HCl sebesar 99,40% dan kapasitas adsorpsinya 67.675,4 mg/g. Sedangkan efisiensi adsorpsi ion logam tembaga (Cu) oleh adsorben cangkang telur ayam teraktivasi NaOH sebesar 99,51% dan kapasitas adsorpsinya 67.745,6 mg/g.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Anita Karunia, Tara Bintang Aghnia https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4999 EKSTRAKSI DAN PENENTUAN GUGUS FUNGSI ASAM HUMAT DARI KOTORAN SAPI PETERNAKAN YAYASAN SASMITA JAYA SERANG 2025-03-30T09:20:45+00:00 Maya Sari Ananda Pohan dosen10024@unpam.ac.id Mayshah Purnamasari dosen10025@unpam.ac.id Fakhrotun Nisa dosen10023@unpam.ac.id <p>Asam Humat adalah turunan bahan organik atau hasil dekomposisi bahan organik yang berwarna hitam kecoklatan, bersifat masam, tak larut dalam pelarut asam, namun larut pada pelarut basa, dan merupakan makro molekul kompleks. Asam humat merupakan salah satu bagian substansi humat/humus disamping asam –asam organik lainnya (fulvat, himatomelanik dan humin). Pada penelitian ini akan asam humat akan diekstrak dari pupuk kotoran sapi. Pupuk kotoran sapi adalah kotoran sapi yang telah dikomposkan. Pemisahan asam humat dari campurannya didasarkan atas kelarutannya dalam asam dan alkali. Pemisahan asam humat melalui proses ekstraksi perlu untuk diketahui dan dipahami supaya memudahkan dalam penentuan kualitas kompos. Dua pertimbangan untuk pemilihan ekstraktan yang cocok didasarkan pada: 1) pengekstrak seharusnya kimia bahan yang diekstrak; dan 2) pengekstrak harus dapat memisahkan asam humat dari campurannya secara kuantitatif. Ekstraksi dilakukan dengan basa dan ditinjau dari berbagai konsentrasi basa dan lama proses ektraksi. Asam humat yang diperoleh dikarakterisasi serapan gugus fungsinya dengan FTIR dan ditentukan kandungan total keasaman, kandungan gugus karboksilat dan kandungan gugus –OH fenolatnya. Urgensi penelitian ini adalah pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi asam humat yang berguna untuk kesuburan tanah yang nantinya akan menaikan nilai jual dari kotoran sapi sebagai limbah ternak.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Maya Sari Ananda Pohan, Mayshah Purnamasari, Fakhrotun Nisa https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/5010 PEMANFAATAN BIOSORBEN BIJI BUAH RUDRAKSHA (Elaeocarpus Ganitrus) DALAM MENURUNKAN KADAR LOGAM BERAT CR(Vi) PADA SAMPEL AIR SUNGAI CITARUM 2025-03-30T09:20:46+00:00 Mahmudatul Istiqomah iqooo533@gmail.com Suci Rizki Nurul Aeni sucirizkinurulaeni@rajawali.ac.id Aziz Ansori Wahid azizwahid@rajawali.ac.id <p><em><strong>Abstract</strong></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><em>Hexavalent chromium Cr(VI) is a harmful heavy metal that frequently discovered in rivers that contaminated by industrial textile waste. Biosorption is a technique that utilizes natural materials to absorb metal ions from water. This research aims to asess efficacy of biosorbent derived from rudraksha ruit seeds in diminishing Cr(VI) concentration in water samples from the Citarum River through biosorption mechanism. The biosorption was conducted by applying the Citarum River water samples with the biosorbent at varying masses of 0.1 g, 0.5 g, 1.0 g, 1.5 g, and 2.0 g. Based on the research findings, the biosorption process reduced the concentrations of Cr(VI) in the water samples from the Citarum River. The highest reduction in Cr(VI) levels occurred at a biosorbent mass of 2.0 g, with percentage reductions of 92.02% and 96.24% for water samples from Rancamanyar Village and Andir Subdistrict, respectively. Therefore, it can be inferred that the biosorbent from rudraksha fruit seeds is effective in lowering Cr(VI) levels in Citarum River water samples.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><em>Keywords:&nbsp;Heavy metal, Cr(VI), Biosorption, Rudraksha fruit seeds, Biosorbent</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Kromium heksavalen Cr(VI) adalah logam berat berbahaya yang sering ditemukan di sungai yang terkontaminasi oleh limbah tekstil industri. Biosorpsi adalah teknik yang memanfaatkan bahan alami untuk menyerap ion logam dari air. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas biosorben yang berasal dari biji buah rudraksha dalam mengurangi konsentrasi Cr(VI) dalam sampel air dari Sungai Citarum melalui mekanisme biosorpsi. Biosorpsi dilakukan dengan menerapkan sampel air Sungai Citarum dengan biosorben pada massa yang bervariasi yaitu 0,1 g, 0,5 g, 1,0 g, 1,5 g, dan 2,0 g. Berdasarkan temuan penelitian, proses biosorpsi mengurangi konsentrasi Cr(VI) dalam sampel air dari Sungai Citarum. Penurunan tertinggi kadar Cr(VI) terjadi pada massa biosorben 2,0 g, dengan penurunan persentase sebesar 92,02% dan 96,24% untuk sampel air dari Desa Rancamanyar dan Kecamatan Andir, masing-masing. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa biosorben dari biji buah rudraksha efektif dalam mengurangi kadar Cr(VI) pada sampel air Sungai Citarum.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Keywords:&nbsp;Logam berat, Cr(VI), Biosorpsi, Biji buah rudraksha, Biosorben</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Mahmudatul Istiqomah, Suci Rizki Nurul Aeni, Aziz Ansori Wahid https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4604 CHARACTERISTICS OF NANOCREAM SUNSCREEN COMBINING KEPOK BANANA CORM AND RED WATERMELON MESOCARP 2025-03-30T09:20:47+00:00 Andini andini@poltekkespim.ac.id Anggraeni In Oktavia andini@poltekkespim.ac.id Reyhana Salwa andini@poltekkespim.ac.id Salsabila Putri andini@poltekkespim.ac.id <p>Plant parts deemed as waste, such as banana corm and watermelon mesocarp, show promise as raw materials for cosmetics when processed using nanocream technology. This study aimed to assess the characteristics of nanocream creams combining these extracts. The characterization of the nanocream creams included organoleptic testing, homogeneity testing, pH testing, nanocream type testing, spreadability testing, stability testing, viscosity testing, antioxidant activity testing using the DPPH method, and sunscreen activity evaluation through SPF determination using UV-Vis spectrophotometry. The research results show that the organoleptic properties of all formulations are semi-solid, with a white to yellowish color. The type of cream for all formulations is oil-in-water, and homogeneous. The pH values for FI, FII, and FIII are 6.37, 6.2, and 6.2, respectively (pvalue=0.017), the spreadability values are 5.94, 5.72, and 5.64 respectively (p=0.024), the viscosity values are 5635, 5339, and 5181, respectively (p&lt;0.05), the antioxidant activity is indicated by IC50 values of 66.39, 24.50, and 56.45 respectively, while the SPF values are 0.95, 0.87, and 1.01 repectively. The resulting nanocream demonstrate favorable organoleptic characteristics, pH, homogeneity, spreadability, and viscosity meeting the required standards, with the highest antioxidant activity observed in FII and no significant sunscreen potential in any of the formulations.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Andini, Anggraeni In Oktavia, Reyhana Salwa, Salsabila Putri https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4998 FORMULASI DAN UJI MUTU FISIK BODY LOTION EKSTRAK KULIT BUAH RAMBUTAN (Nephelium Lappaceum L.) 2025-03-30T09:20:48+00:00 Sih Wahyuni Raharjeng ajengraharjeng3@gmail.com Elly Purwati sraharjeng@gmail.com <p><strong>Abstract </strong></p> <p>The frequency of cosmetic use in this day and age, cosmetics are made by humans not only from natural ingredients but also artificial ingredients to enhance beauty.&nbsp; Herbal cosmetics are preferred by the public because they have several advantages over chemical cosmetics, including being safe for all skin types, minimal side effects, and for the environment. According to the Central Statistics Agency (BPS) in 2021 Indonesia produced 884,702 tons of rambutan fruit (<em>Nephelium lappaceum</em> L.), and rambutan fruit skin is still a waste that has not been managed properly. Based on the results of previous research, it shows that rambutan fruit peels have various secondary metabolite contents and antioxidant activities that are beneficial to the skin so that they can be formulated as body lotions. The design of this research is experimental research. The initial stage of the study was the preparation of rambutan fruit peel simplisia, then continued with the extraction process of rambutan fruit peel by maceration method, then the process of making body lotion with a concentration of rambutan fruit peel extract (<em>Nephelium lappaceum</em> L.) of 5% (F1) and 10% (F2) using the cold method. The second stage is to evaluate the preparation with phytochemical test, organoleptic test, and spreadability test, homogeneity test, pH test, emulsion type test, viscosity test, and adhesion test. The research was conducted at the Pharmaceutical Biology Laboratory of the Academy of Pharmacy Mitra Sehat Mandiri Sidoarjo. This research was conducted between April 2024-August 2024. Based on the results of stability evaluation of body lotion preparations, rambutan fruit peel waste extract (<em>Nephelium lappaceum</em> L.) can be used for body lotion preparations, with all formulations that have met the requirements.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Keywords: Body Lotion, Nephelium Lappaceum L., Physical Quality Test.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Frekuensi penggunaan kosmetik pada jaman sekarang ini, kosmetik dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan buatan untuk meningkatkan kecantikan.&nbsp; Kosmetik herbal lebih disukai masyarakat karena memiliki beberapa kelebihan dari kosmetik kimia, diantaranya adalah aman bagi semua jenis kulit, minim efek samping, dan bagi lingkungan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 Indonesia menghasilkan 884.702 ton buah rambutan (<em>Nephelium lappaceum</em> L.), dan kulit buah rambutan masih menjadi limbah yang belum terkelola dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnnya menunjukkan bahwa kulit buah rambutan memiliki berbagai kandungan metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan yang bermaanfaat bagi kulit sehingga dapat diformulasikan sebagai body lotion. Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Tahapan awal&nbsp; penelitian adalah pembuatan simplisia kulit buah rambutan, kemudian dilanjutkan dengan proses ekstraksi kulit buah rambutan dengan metode maserasi, selanjutnya dilakukan proses pembuatan body lotion dengan konsentrasi ekstrak kulit buah rambutan (<em>Nephelium lappaceum</em> L.) sebesar 5% (F1) dan 10% (F2) menggunakan metode dingin. Tahapan kedua adalah dilakukan evaluasi sediaan dengan uji fitokimia, uji organoleptis, uji daya sebar, uji homogenitas, uji pH, uji tipe emulsi, uji viskositas, dan uji daya lekat. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri Sidoarjo. Penelitian ini dilakukan antara bulan April 2024-Aguatus 2024. Berdasarkan hasil evaluasi stabilitas terhadap sediaan <em>body lotion</em>, Ekstrak limbah kulit buah rambutan (<em>Nephelium lappaceum </em>L.) dapat digunakan untuk sediaan <em>body lotion</em>, dengan seluruh formulasi yang telah memenuhi persyaratan.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 sih wahyuni raharjeng, Elly Purwati https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/5036 DETERMINATION OF BORAX CONTENT IN VARIOUS FOOD MATERIALS CIRCULATING IN AMBON CITY 2025-03-30T09:20:50+00:00 Semuel Simra semuel13001@gmail.com <p>Food safety is a critical issue for public health, especially in developing countries like Indonesia, where the use of unauthorized food additives still occurs frequently. This study aims to analyze the presence of borax, or sodium tetraborate, in food circulating in Ambon City. The methods employed include qualitative analysis using turmeric paper and quantitative analysis through UV-Vis spectrophotometry. Out of 10 samples tested, 4 samples (40%) were positively detected to contain borax in the qualitative test. Quantitative analysis revealed borax concentrations ranging from 2.461 to 3.051 ppm, with the following details: Wayame Market Noodles (2.858 ppm), OM Supermarket Noodles (2.641 ppm), OM Supermarket Meatballs (2.935 ppm), and Mardika Market Meatballs (3.051 ppm). These findings indicate a serious health risk due to the consumption of borax-containing foods, which can lead to various health issues in both the short and long term.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Semuel Simra https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4611 MUTU FISIK MUTU KIMIA DAN ANTIBAKTERI SEDIAAN SABUN PADAT EKSTRAK AIR DAUN JATI (Tectona grandis L) 2025-03-30T09:20:50+00:00 Wahyu Wuryandari wahyu@poltekkespim.ac.id Milda Lailatul Mukarromah wahyu@mail.poltekkespim.ac.id Lalu Abdul Kadir Jaelani wahyu@poltekkespim.ac.id Abdullah Assegaf wahyu@poltekkespim.ac.id Ana Nurjanah anna.nrjh345@gmail.com <p>Daun jati memiliki sifat antibakteri, sehingga ekstraknya digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan sabun. Untuk keamanan dan kemudahan penggunaan, air digunakan sebagai pelarut, menghindari risiko yang ditimbulkan oleh etanol yang mudah terbakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu fisik, mutu kimia dan aktivitas antibakteri sabun padat ekstrak air daun jati<em>.</em> Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi, hasil ekstrak dibagi menjadi dua yaitu ekstrak yang dipekatkan dan tidak dipekatkan. Uji mutu fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, tinggi busa dan kadar air. Uji mutu kimia meliputi uji pH dan alkali bebas. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode sumuran. Hasil organoleptis sabun padat dengan ekstrak daun jati yang dipekatkan (F1) dan sabun dengan ekstrak yang tidak dipekatkan (F2), F1 memiliki bentuk yang padat, tidak berbau dan berwarna hijau kecoklatan, F2 berwarna cream. Uji homogenitas F1 dan F2 didapatkan hasil homogen. Uji tinggi busa F1 dihasilkan 95 mm dan F2 96 mm. Uji kadar air F1 dihasilkan 7,57% dan F2 11,82%. Uji pH F1 dihasilkan F1 9,96 dan F2 9,86. Uji alkali bebas dihasilkan F1 0,0753% dan F2 0,0892%. Hasil antibakteri F1 sebesar 21,848 mm, F2 18,876 mm dan sabun tanpa ekstrak sebesar 17,030 mm. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan aktivitas antibakteri dengan penambahan ekstrak air daun jati. Kesimpulan dari penelitian ini menghasilkan mutu fisik dan mutu kimia sabun padat F1 dan F2 memenuhi standart SNI-3532-2021. Adanya aktivitas antibakteri sabun padat F1 dan F2 terhadap bakteri <em>Staphylococcus aureus.</em> Terdapat beda antara aktivitas antibakteri sabun padat F1 dan F2 terhadap bakteri <em>Staphylococcus aureus.</em></p> 2025-03-29T03:40:45+00:00 Copyright (c) 2025 Wahyu Wuryandari, Milda Lailatul Mukarromah, Lalu Abdul Kadir Jaelani, Abdullah Assegaf, Ana Nurjanah https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/5099 FORMULASI PUPUK ORGANIK CAIR (POC) BERBAHAN LIMBAH KULIT BAWANG MERAH, KULIT JERUK, KULIT NANAS, DAN AIR CUCIAN BERAS DENGAN PENAMBAHAN EM4 2025-03-30T09:20:52+00:00 Mardi mardiwaldi30@gmail.com Desy Kurniawati mardiwaldi30@gmail.com Della Rosalynna Stiadi mardiwaldi30@gmail.com Aziza Putri Ana mardiwaldi30@gmail.com Rayhani Rara Bahri mardiwaldi30@gmail.com Sri Rahayu Ningsih mardiwaldi30@gmail.com <p>One solution to overcome the problem of household organic waste is to use technology to process it into liquid organic fertilizer (POC). POC is a solution that contains one or more essential nutrients that are easily absorbed by plants. The main ingredient for making quality POC comes from organic waste, especially wet organic material with high water content, such as fruit and vegetable waste. Several types of waste, such as onion peels, orange peels and pineapple peels, can be processed into POC by adding EM4 as an activator. This research aims to process fruit and vegetable waste into POC, improve skills in making it, and compare the effectiveness of POC with NPK fertilizer on the growth of chili plants. The process of making POC is carried out by mixing onion peel, orange peel and pineapple peel waste with water, rice washing water and brown sugar solution, then adding EM4. This mixture is fermented for seven days with daily stirring and ventilation. The research results show that the POC produced has good nutritional content and can be used as organic fertilizer.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Mardi, Desy Kurniawati, Della Rosalynna Stiadi, Aziza Putri Ana, Rayhani Rara Bahri, Sri Rahayu Ningsih https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/5078 PENGARUH SUHU SINTESIS HIDROTERMAL TERHADAP SIFAT OPTIK KARBON DOTS TERDOPING NITROGEN (N-CDs) 2025-03-30T09:20:52+00:00 Fathah Dian Sari fathahdian@upy.ac.id Nurul Jannah nurul@upy.ac.id Sundari Desi Nuryanti sundaridesi@almaata.ac.id <p>Karbon dots (CDs) telah menarik perhatian luas dalam berbagai aplikasi optik dan biomedis karena memliki sifat fluoresensi, stabilitas kimia, serta biokompatibilitas. Doping nitrogen diketahui dapat meningkatkan intensitas fluoresensi dan <em>quantum yield </em>(QY) dari CDs. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suhu sintesis hidrotermal terhadap sifat optik karbon dots terdoping nitrogen (N-CDs) yang disintesis menggunakan rumput gajah sebagai sumber karbon dan etilendiamin sebagai sumber nitrogen. Karbon dots terdoping nitrogen disintesis pada berbagai suhu (150°C, 180°C, dan 200°C) dengan metode hidrotermal satu tahap. Karakterisasi dilakukan menggunakan spektroskopi UV-Vis, spektrofluorometer, dan Fourier Transform Infrared (FTIR) untuk mengidentifikasi perubahan sifat optik dan mengetahui gugus fungsi N-CDs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu sintesis mempengaruhi pergeseran panjang gelombang emisi maksimum dan intensitas fluoresensi N-CDs. Pada suhu yang lebih tinggi, terjadi peningkatan delokalisasi elektron yang berkontribusi terhadap pergeseran emisi merah (<em>red-shift</em>), sedangkan pada suhu yang lebih rendah, N-CDs menunjukkan emisi biru (<em>blue-shift)</em> dengan intensitas yang lebih tinggi. Selain itu, analisis FTIR mengindikasikan perubahan gugus fungsi pada permukaan N-CDs akibat variasi suhu, yang berkontribusi terhadap perubahan sifat optik. Temuan ini memberikan wawasan lebih lanjut mengenai optimasi suhu sintesis hidrotermal dalam rekayasa sifat optik N-CDs untuk aplikasi di bidang sensor, bioimaging, dan optoelektronik.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Fathah Dian Sari, Nurul Jannah, Sundari Desi Nuryanti https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/4988 SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK SUSU KEDELAI DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TULANG RAWAN AYAM PEDAGING 2025-03-30T09:20:53+00:00 Siti Khomsatin sitikhomsatin82@gmail.com Shally Ayu Chintya sitikhomsatin82@gmail.com <p>Susu kedelai merupakan hasil teknologi pangan yang mengekstrak fraksi terlarut dari kedelai dengan kualitas yang tidak jauh berbeda dengan susu sapi. Susu kedelai bebas laktosa dengan kandungan lemak yang lebih rendah dari susu sapi sehingga baik digunakan untuk orang yang diet dan <em>lactose intolerance. </em>Susu kedelai mengandung kalsium dan fosfor yang lebih rendah dari susu sapi sehingga pada penelitian ini dilakukan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging pada susu kedelai dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah kalsium dan fosfor yang terkandung pada susu kedelai. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah RAL pola searah dengan tiga kali ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging pada 250 ml susu kedelai sebanyak 0 g, 1 g, 2 g, 3 g, dan 4 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging pada susu kedelai tidak berbeda nyata terhadap sifat fisikokimia susu kedelai kecuali pada kadar airnya. Semakin tinggi konsentrasi tepung tulang rawan ayam pedaging yang ditambahkan maka kadar air susu kedelai semakin menurun. Kadar abu susu kedelai berkisar 1,68-3,17 %bk. Kadar lemak susu kedelai berkisar 0,65-1,44 %bk. Kadar protein susu kedelai berkisar 19,47-20,29 %bk. Kadar kalsium susu kedelai berkisar 0,66-2,15 mg/g bk, dan kadar fosfor susu kedelai berkisar 0,16-0,22 mg/g bk. Penilaian uji organoleptik susu kedelai dengan uji hedonik (kesukaan) terhadap warna, kekentalan dan rasa menunjukkan berbeda nyata, sedangkan untuk aroma tidak berbeda nyata. Secara umum susu kedelai yang paling disukai oleh konsumen adalah susu kedelai dengan penambahan tepung tulang rawan ayam pedaging 4 g.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>Susu kedelai, tepung tulang rawan ayam, kalsium, hedonik</p> <p>&nbsp;</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Siti Khomsatin, Shally Ayu Chintya https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/Crystal/article/view/5152 STUDI PENGARUH VARIASI PH DAN KOLEKTOR PADA EFISIENSI FLOTASI MINERAL TEMBAGA SULFIDA 2025-03-30T09:20:55+00:00 Kostiawan Sukamto kostiawan_sukamto@ung.ac.id Astin Lukum astin.lukum@ung.ac.id Akram La Kilo akram@ung.ac.id <p>This study aims to investigate the effect of pH variations and collector types on the recovery efficiency and Cu content in copper sulfide mineral samples. The experiment was conducted by varying the pH (6, 8, 10, and 12) and using different types of collectors, namely Xanthate, Potassium Amyl Xanthate (PAX), Diethyl Dithiophosphate (DTP), and a combination of PAX + DTP. Control variables included flotation time (5, 10, 15, 20, and 25 minutes), collector concentration at 50 mg/L, particle size &lt;75 µm, and the use of Frother Methyl Isobutyl Carbinol (MIBC) at a concentration of 10 mg/L. Modifiers such as NaOH and H₂SO₄ were used to adjust the pH, while Copper Sulfate (CuSO₄) served as an activator and Sodium Metabisulfite (Na₂S₂O₅) as a depressant. The results showed that variations in pH and collector types significantly influenced recovery efficiency and Cu content in the concentrate. In general, the highest recovery efficiency was achieved at pH 10 with the combination of PAX + DTP, which resulted in a higher Cu content compared to other single collectors. This combination was able to improve recovery efficiency to over 75%, with Cu content in the concentrate reaching 28%. Therefore, the findings suggest the use of a collector combination and pH optimization as strategies to enhance the performance of copper sulfide flotation.</p> 2025-03-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Kostiawan Sukamto, Astin Lukum, Akram La Kilo